Percakapan Uang 1rb dan 100rb


=|[ "Percakapan Uang Rp 1000 & Rp100.000" ]|=-

Rp 1000 : "Enak yak jadi kamu... selalu
berkeliaran di tempat mewah...?!?" +"_"+

Rp 100.000 : "Emang bener aku selalu ditempat mewah, tapi aku juga sering digunakan untuk kejahatan. Seperti buat menyuap, buat korupsi, buat narkoba. Sebenernya aku pengen deh sekali2 kaya kamu, masuk ke dalam kotak amal,
tapi sangat jarang orang yang mau memasukan aku ke kotak amal...!!!" ~./.~"

Rp 1000 : "Betul juga yaaa... Kalo aku yang paling sering dipake buat ngasih pengemis, pengamen, trus aku hampir tiap hari masuk kotak amal...!!!" ^_^"

Rp 100.000 : "Mudah-mudahan setelah Sahabat ngebaca status ini banyak orang yang mau memasukan aku ke dalam kotak amal...!!!"

Rp 1000 : "Aamiin... Aamiin... Aamiin... ^_^"

=========================================================================

Untuk uang 100rb jangan khawatir kamu bisa lebih bermanfaat, jika gak bisa masuk ke kotak amal, transfer aja, gampang kan???
tidak ada alasan lagi untuk saling berbgai!!!!


Rekening Donasi :

BCA 094 301 6001
Mandiri 132000 481 974 5
*Yayasan Rumah Zakat 

Jangan lupa konfirmasi jika sudah transfer agar kami slaurkan sesuai amanah uang sahabat ;)

Yakinlah, Allah MAHA MENEPATI JANJI



Allah adalah MAHA MENEPATI JANJI, dan apa yang tertulis di Alqur’an adalah apa yang langsung diserukan Allah kepada umatnya.

Alquran > Surah Al Baqarah> Ayat 245
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah melipatgandakan pembayaran Kepadany dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Bayangkan jika seluruh umat muslim memiliki kesadaran untuk menjadi manfaat bagi yang lainnya, masih adakah orang-orang kelaparan di pinggiran jalan? Masih adakah anak-anak gelandangan yang buta pendidikan? Dan masih adakah preman-preman yang mencurahkan kesengsaraanya dengan kejahatan? 

~Andai kita semua sadar akan hal itu,,,

Syukron inspirasinya teh Fia

Antara Syurga dan Neraka



Oleh: Makmun Nawawi

Diriwayatkan dari Abu Ayyash al-Qathan, dia mengatakan, ada seorang raja yang hartanya melimpah ruah. Dia hanya mempunyai seorang putri yang sangat dicintai dan disayanginya. Sang raja sangat memanjakan putri kesayangannya itu dengan aneka rupa harta. Dan yang demikian berlangsung sekian lama.

Sementara di samping raja itu ada seorang ahli ibadah. Dan ketika suatu malam dia membaca Alquran, suaranya meninggi ketika membaca ayat berikut, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS at-Tahrim: 6).

Ketika pelayannya mendengar, dia pun mengingatkan tetangganya itu. “Berhentilah!” Namun, si abid (ahli ibadah) tetap melanjutkan dan malah mengulang-ulang membaca ayat itu. Si pelayan terus mengingatkan agar si abid berhenti membaca ayat itu. Namun, si abid tetap tak berhenti.

Mendengar ayat tersebut, putri raja meletakkan tangannya ke kantong seraya merobek-robek bajunya. Kemudian, para pelayannya datang menemui raja, seraya menceritakan apa yang terjadi.

Raja pun menemui buah hatinya. “Duhai sayang, apa yang terjadi denganmu sejak semalam? Apa yang menyebabkanmu menangis?” ujar sang raja.

Sang putri menjawabnya dengan mengutarakan pertanyaan. “Wallahi (demi Allah), ananda ingin bertanya kepada ayah, 'Apakah Allah punya rumah yang di dalamnya ada api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu?” Sang raja mengiyakannya.

“Lantas apa yang menghalangi ayah untuk menceritakan hal itu padaku? Wallahi, ananda tidak bisa makan dengan enak dan tidak bisa tidur dengan pulas, sampai nanda tahu di mana kediaman saya kelak; di surga atau neraka?”

Pertanyaan yang diajukan cukup menggetarkan jiwa. Ya, ketika seseorang hidup dalam gelimang kemewahan, lebih-lebih di saat materi diagung-agungkan sedemikian rupa sehingga menjadi parameter baik-buruknya seseorang.

Kemudian, muncul kesadaran akan adanya surga dan neraka, maka hal itu menjadi suatu anugerah dan hidayah yang tiada terkira. Karena beragam perilaku menyimpang, antara lain, dipicu lantaran seseorang melupakan surga dan neraka.

Takut terhadap neraka dan merindukan surga adalah bagian iman yang sangat penting dan keyakinan ini pulalah yang mewarnai kehidupan manusia. Di kalangan sahabat, banyak yang rela mengorbankan apa pun, termasuk jiwanya, demi meraih surga. Misalnya, Umair bin Hamam, yang syahid dalam Perang Badar, dan Amru bin Jamuh yang gugur dalam Perang Uhud. Kedua sahabat ini dijanjikan surga oleh Rasulullah SAW yang luasnya seluas langit dan bumi.

Kalau Nabi juga bersabda, “Haji  yang mabrur, tiada balasan baginya kecuali surga,” (HR Bukhari dan Muslim), seyogianya hal itu menginspirasi para haji (hujjaj) untuk terus merindukan surga, sehingga yang tampil darinya adalah sifat-sifat ahli surga.

Setara dengan kerinduan terhadap surga adalah ketakutan terhadap neraka. Banyak sahabat dan shalafush-shalih yang sudah mencontohkannya. Dengan kondisi jiwa seperti inilah, diharapkan bisa mendorong seseorang untuk beramal sebanyak mungkin dan meredam sekecil apa pun dosa.

Sumber: www.republika.co.id

Masih Hanya Tuhan Yang Tahu


Ku pendamkan perasaan ini
Ku rahsiakan rasa hati ini
Melindungkan kasih yang berputik
Tersembunyi di dasar hati

Ku pohonkan petunjuk Ilahi

Hadirkanlah insan yang sejati
Menemani kesepian ini
Mendamaikan sekeping hati

Oh Tuhanku

Berikanlah ketenangan abadi
Untukku menghadapi
Resahnya hati ini mendambakan kasih
Insan yang ku sayang

Di hati ini

Hanya Tuhan yang tahu
Di hati ini
Aku rindu padamu
Tulus sanubari
Menantikan hadirmu
Hanyalah kau gadis pilihanku

Kerana batasan adat dan syariat

Menguji kekuatan keteguhan iman
insan yang berkasih

Sahabat, taukan lirik lagu diatas? yup, lagu nasyid yang dipopulerkan oleh Unic,
lagu tersebut masih saja sering kudendangkan, karena sampai sekarang Hanya Tuhan Yang Tahu, masa? kan udah nikah??? he,,,

Yee, yang sekarang tidak seperti isi liriknya tapi maksudnya masih Hanya Tuhan Yang Tahu sebesar apa cinta dan sayangku unutk istriku, pastinya lebih besar dari yang dia rasakan. Aamiin,,, he,,,

tos heula ah!!! nuhun,,,

apa ceritamu????

Sahabat,,,
Abu Darda' ra pernah berkata:

"Allah mengaruniakan ilmu bagi orang-orang yang beruntung, dan Dia mengharamkan ilmu bagi mereka yang sengsara."

Sahabat,,,
Abu Darda' ra memberi batasan yang jelas perihal orang-orang yang akan berbahagia di akherat. Demikian pula sebaliknya ia memberi ukuran yang terang mengenai orang yang akan sengsara di sana.

Dimudahkannya menggali ilmu pengetahuan. Dilancarkan proses belajar mengajar. Diberikan pemahaman dan daya serap yang tinggi terhadap ilmu. Mencintai orang yang berilmu dan yang meniti jalan ilmu. Dibukanya kran-kran ilmu di sela-sela kesibukannya dalam kerja dan menggeluti rutinitas sehari-hari. Senang menularkan ilmu kepada orang-orang di sekelilingnya. Tak patah arang saat gagal mendaki puncak ilmu. Lebih mencintai ilmu daripada harta benda dan yang senada dengan itu.

Jika yang demikian itu ada pada diri kita, berarti kita calon menjadi orang yang bahagia di akherat sana. Sudah barang tentu setelah mengecap kebahagiaan di sini. Di dunia ini.

Sahabat,,,
Sebaliknya, merupakan tanda bahwa kita akan sengsara di alam keabadian dan kehidupan yang kekal di akherat sana, jika kita terhalangi meraih ilmu pengetahuan. Membenci orang-orang yang menghadiri majlis ilmu. Memusuhi mereka yang menularkan ilmu kepada orang lain. Gerah duduk di taman ilmu. Menghalang-halangi orang lain meraih pengetahuan agama dan seterusnya.

Sahabat,,,
Mari mulai hari ini kita merenung sejenak. Mana yang lebih menguras pikiran kita, harta benda dan kenikmatan dunia yang ingin kita kecap? Ataukah ilmu pengetahuan yang kita kejar?.

Mana yang lebih dominan menyapa kita setiap hari. Ilmu pengetahuan ataukah godaan dunia?.

Ketika kita mengunjungi dunia maya. Apa yang terbersit di hati kita? Apakah kita ingin menjadikannya sebagai kunci ilmu bagi kita. Atau justru kita ingin berkeliling dunia dengannya?.

Jawabannya ada di hati kita. Apakah kita termasuk orang yang akan berbahagia di sana atau sebaliknya, kita menjadi orang yang merana yang tak ada ujungnya.

Ya Rabb, bukakanlah pintu-pintu ilmu pengetahuan untuk kami dan jangan Engkau halangi kami dari karunia-Mu. Amien. Wallahu a'lam bishawab.

KARENA IBLIS MASIH HIDUP


sahabat..
Abu Hurairah ra ketika sujud dalam shalatnya, ia sering memohon perlindungan kepada Allah dari perbuatan zina, mencuri, terpuruk dalam kekufuran dan dosa-dosa besar lainnya.

Ada sahabat yang bertanya, "Mengapa anda teramat takut dari melakukan dosa-dosa besar?."

Ia menjawab, "Siapa yang dapat menjamin bahwa aku terhindar dari dosa-dosa besar sementara Iblis masih hidup, sedangkan Zat yang memiliki hati bisa membolak-balikan hati ini seperti yang dikehendaki-Nya."
(Mawa'izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

sahabat..
Dari pengalaman hidup sahabat agung ini, sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi saw, dapat kita gali beberapa pelajaran berharga. Di antaranya:
 
·     Jika tingkat keshalihan pribadi kita semakin tinggi, maka rasa khauf kita kepada Zat yang memiliki siksa yang pedih juga semakin meningkat. Sebaliknya, tiada rasa takut akan siksa-Nya, bagi kita yang mengalami penurunan spiritual, ringkih keimanan dan telah sirna nilai penghambaan diri kepada-Nya.



·     Keimanan yang hidup seperti yang dimiliki Abu Hurairah ra dan sahabat lainnya, telah mengalirkan rasa khauf yang teramat besar di dalam kalbunya. Lalu dari hati memantulah rasa takut itu kepada lisannya, yang menjelma dalam lantunan do'a tulus. Rasa khauf yang terekspresikan lewat tetesan air mata iman, di waktu do'a paling dekat untuk dikabulkan. Yakni di saat sujud.

·     Dosa-dosa besar, akan menyeret kita masuk ke dalam neraka. Tiada terhapus dosa-dosa tersebut, melainkan dengan taubat dan istighfar. Abu Hurairah ra, biasa beristighfar dalam sehari sebanyak 1000 kali. Di antara bentuk dosa besar yang disebutkan Abu Hurairah dalam do'anya adalah; zina, mencuri, mengingkari karunia Allah dan seterusnya.

·     Alasan Abu Hurairah merasa takut terpuruk dalam dosa-dosa besar adalah karena nenek moyangnya setan yaitu Iblis masih hidup dan akan terus hidup sampai tibanya hari kiamat. Semakin shalih seorang hamba, maka setan yang ditugasi Iblis untuk menggodanya juga semakin lihai dan beragam perangkapnya.

·     Memperbanyak do'a sewaktu sujud. Sebab sujud merupakan satu keadaan di mana seorang hamba paling rendah dan tunduk di hadapan-Nya. Itulah satu kondisi di mana do'a-do'a kita dekat untuk dikabulkan.

·     Merasa aman dari makar (azab) Allah, merupakan bagian dari makar (tipu daya) setan terhadap kita, yang semestinya kita selalu mewaspadainya.

Ya Rabbi, hadirkanlah rasa takut di hati kami terhadap azab-Mu yang pedih. Jauhkanlah kami dari dosa-dosa besar dan kecil yang bisa menghambat kami masuk ke dalam surga-Mu. Amien. Wallahu a'lam bishawab.

Saudaraku..
Abdurahman bin Auf ra pernah menyindir kita dengan ucapannya:
 
"Dahulu saat kami menyertai Rasulullah saw, kami diuji dengan kesusahan dan kami sabar. Lalu sepeninggal beliau kami diuji dengan kesenangan, ternyata kami tak sabar."
(Mawa'izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku..
Dunia disebut dengan darul bala', tempat ujian atau ladang tempat menanam amal dan bakti. Sedangkan akherat diistilahkan dengan darul jaza', tempat memanen hasil atau memetik buah balasan.

Artinya, kenikmatan dan bencana. Kelapangan dan kesempitan. Kebahagiaan dan kesusahan. Kesuksesan dan kegagalan. Kekayaan dan kemiskinan. Sehat dan sakit. Senyuman dan tangisan. Kejayaan dan keterpurukan. Kemudahan dan kesulitan. Berseri dalam keluarga dan nyeri dalam kesendirian. Dan seterusnya. Itu semua pada hakikatnya merupakan warna dari ujian Allah swt atas kita.

Di mana bila kita salah dalam mensikapi kedua kondisi dan keadaan yang pasti pernah kita alami itu, akan berakibat fatal di sini, di dunia ini. Apalagi di sana, di akherat sana. Maka memandang persoalan hidup dengan kaca mata iman dan hati, merupakan awal dari kisah panjang kesuksesan kita.

Namun saudaraku..
Pengalaman mengajari kita, tidak sedikit orang yang sadar bahwa ia sedang diuji oleh-Nya saat ia jatuh miskin, usaha bangkrut, jodoh idaman menjauh, gagal menjadi wakil rakyat, sakit kronis merongrong tubuh, kepergian orang-orang dekat, kesempitan akrab menyapa diri dan seterusnya.

Tapi jarang di antara kita yang menyadari bahwa kenikmatan hidup dan kelapangan yang Dia karuniakan kepada kita berupa kesuksesan meraih harapan dan cita-cita, kesehatan yang setia menemani kita, karir yang terus melejit, kekayaan yang menyerikan pandangan dan seterusnya. Itu merupakan ujian yang sering kita tidak sabar menghadapinya. Membuat kita lupa untuk mensyukuri karunia-Nya.

Dan inilah yang pernah digaris bawahi oleh sahabat agung Abdurahman bin Auf, sahabat terkaya di zaman Nabi saw.

Jika hal itu dirasakan oleh para sahabat, tentu kita harus lebih waspada menghadapi ujian yang sering melenakan kita ini.

Mudah-mudahan kita selalu sadar dengan dua model ujian ini. Dan semoga kita sabar dalam menghadapi model ujian apapun di dunia ini. Tentunya dengan bimbingan dan penjagaan dari Allah swt. Wallahu a'lam bishawab.