Percakapan Uang 1rb dan 100rb


=|[ "Percakapan Uang Rp 1000 & Rp100.000" ]|=-

Rp 1000 : "Enak yak jadi kamu... selalu
berkeliaran di tempat mewah...?!?" +"_"+

Rp 100.000 : "Emang bener aku selalu ditempat mewah, tapi aku juga sering digunakan untuk kejahatan. Seperti buat menyuap, buat korupsi, buat narkoba. Sebenernya aku pengen deh sekali2 kaya kamu, masuk ke dalam kotak amal,
tapi sangat jarang orang yang mau memasukan aku ke kotak amal...!!!" ~./.~"

Rp 1000 : "Betul juga yaaa... Kalo aku yang paling sering dipake buat ngasih pengemis, pengamen, trus aku hampir tiap hari masuk kotak amal...!!!" ^_^"

Rp 100.000 : "Mudah-mudahan setelah Sahabat ngebaca status ini banyak orang yang mau memasukan aku ke dalam kotak amal...!!!"

Rp 1000 : "Aamiin... Aamiin... Aamiin... ^_^"

=========================================================================

Untuk uang 100rb jangan khawatir kamu bisa lebih bermanfaat, jika gak bisa masuk ke kotak amal, transfer aja, gampang kan???
tidak ada alasan lagi untuk saling berbgai!!!!


Rekening Donasi :

BCA 094 301 6001
Mandiri 132000 481 974 5
*Yayasan Rumah Zakat 

Jangan lupa konfirmasi jika sudah transfer agar kami slaurkan sesuai amanah uang sahabat ;)

Yakinlah, Allah MAHA MENEPATI JANJI



Allah adalah MAHA MENEPATI JANJI, dan apa yang tertulis di Alqur’an adalah apa yang langsung diserukan Allah kepada umatnya.

Alquran > Surah Al Baqarah> Ayat 245
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah melipatgandakan pembayaran Kepadany dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Bayangkan jika seluruh umat muslim memiliki kesadaran untuk menjadi manfaat bagi yang lainnya, masih adakah orang-orang kelaparan di pinggiran jalan? Masih adakah anak-anak gelandangan yang buta pendidikan? Dan masih adakah preman-preman yang mencurahkan kesengsaraanya dengan kejahatan? 

~Andai kita semua sadar akan hal itu,,,

Syukron inspirasinya teh Fia

Antara Syurga dan Neraka



Oleh: Makmun Nawawi

Diriwayatkan dari Abu Ayyash al-Qathan, dia mengatakan, ada seorang raja yang hartanya melimpah ruah. Dia hanya mempunyai seorang putri yang sangat dicintai dan disayanginya. Sang raja sangat memanjakan putri kesayangannya itu dengan aneka rupa harta. Dan yang demikian berlangsung sekian lama.

Sementara di samping raja itu ada seorang ahli ibadah. Dan ketika suatu malam dia membaca Alquran, suaranya meninggi ketika membaca ayat berikut, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS at-Tahrim: 6).

Ketika pelayannya mendengar, dia pun mengingatkan tetangganya itu. “Berhentilah!” Namun, si abid (ahli ibadah) tetap melanjutkan dan malah mengulang-ulang membaca ayat itu. Si pelayan terus mengingatkan agar si abid berhenti membaca ayat itu. Namun, si abid tetap tak berhenti.

Mendengar ayat tersebut, putri raja meletakkan tangannya ke kantong seraya merobek-robek bajunya. Kemudian, para pelayannya datang menemui raja, seraya menceritakan apa yang terjadi.

Raja pun menemui buah hatinya. “Duhai sayang, apa yang terjadi denganmu sejak semalam? Apa yang menyebabkanmu menangis?” ujar sang raja.

Sang putri menjawabnya dengan mengutarakan pertanyaan. “Wallahi (demi Allah), ananda ingin bertanya kepada ayah, 'Apakah Allah punya rumah yang di dalamnya ada api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu?” Sang raja mengiyakannya.

“Lantas apa yang menghalangi ayah untuk menceritakan hal itu padaku? Wallahi, ananda tidak bisa makan dengan enak dan tidak bisa tidur dengan pulas, sampai nanda tahu di mana kediaman saya kelak; di surga atau neraka?”

Pertanyaan yang diajukan cukup menggetarkan jiwa. Ya, ketika seseorang hidup dalam gelimang kemewahan, lebih-lebih di saat materi diagung-agungkan sedemikian rupa sehingga menjadi parameter baik-buruknya seseorang.

Kemudian, muncul kesadaran akan adanya surga dan neraka, maka hal itu menjadi suatu anugerah dan hidayah yang tiada terkira. Karena beragam perilaku menyimpang, antara lain, dipicu lantaran seseorang melupakan surga dan neraka.

Takut terhadap neraka dan merindukan surga adalah bagian iman yang sangat penting dan keyakinan ini pulalah yang mewarnai kehidupan manusia. Di kalangan sahabat, banyak yang rela mengorbankan apa pun, termasuk jiwanya, demi meraih surga. Misalnya, Umair bin Hamam, yang syahid dalam Perang Badar, dan Amru bin Jamuh yang gugur dalam Perang Uhud. Kedua sahabat ini dijanjikan surga oleh Rasulullah SAW yang luasnya seluas langit dan bumi.

Kalau Nabi juga bersabda, “Haji  yang mabrur, tiada balasan baginya kecuali surga,” (HR Bukhari dan Muslim), seyogianya hal itu menginspirasi para haji (hujjaj) untuk terus merindukan surga, sehingga yang tampil darinya adalah sifat-sifat ahli surga.

Setara dengan kerinduan terhadap surga adalah ketakutan terhadap neraka. Banyak sahabat dan shalafush-shalih yang sudah mencontohkannya. Dengan kondisi jiwa seperti inilah, diharapkan bisa mendorong seseorang untuk beramal sebanyak mungkin dan meredam sekecil apa pun dosa.

Sumber: www.republika.co.id

Masih Hanya Tuhan Yang Tahu


Ku pendamkan perasaan ini
Ku rahsiakan rasa hati ini
Melindungkan kasih yang berputik
Tersembunyi di dasar hati

Ku pohonkan petunjuk Ilahi

Hadirkanlah insan yang sejati
Menemani kesepian ini
Mendamaikan sekeping hati

Oh Tuhanku

Berikanlah ketenangan abadi
Untukku menghadapi
Resahnya hati ini mendambakan kasih
Insan yang ku sayang

Di hati ini

Hanya Tuhan yang tahu
Di hati ini
Aku rindu padamu
Tulus sanubari
Menantikan hadirmu
Hanyalah kau gadis pilihanku

Kerana batasan adat dan syariat

Menguji kekuatan keteguhan iman
insan yang berkasih

Sahabat, taukan lirik lagu diatas? yup, lagu nasyid yang dipopulerkan oleh Unic,
lagu tersebut masih saja sering kudendangkan, karena sampai sekarang Hanya Tuhan Yang Tahu, masa? kan udah nikah??? he,,,

Yee, yang sekarang tidak seperti isi liriknya tapi maksudnya masih Hanya Tuhan Yang Tahu sebesar apa cinta dan sayangku unutk istriku, pastinya lebih besar dari yang dia rasakan. Aamiin,,, he,,,

tos heula ah!!! nuhun,,,

apa ceritamu????

Sahabat,,,
Abu Darda' ra pernah berkata:

"Allah mengaruniakan ilmu bagi orang-orang yang beruntung, dan Dia mengharamkan ilmu bagi mereka yang sengsara."

Sahabat,,,
Abu Darda' ra memberi batasan yang jelas perihal orang-orang yang akan berbahagia di akherat. Demikian pula sebaliknya ia memberi ukuran yang terang mengenai orang yang akan sengsara di sana.

Dimudahkannya menggali ilmu pengetahuan. Dilancarkan proses belajar mengajar. Diberikan pemahaman dan daya serap yang tinggi terhadap ilmu. Mencintai orang yang berilmu dan yang meniti jalan ilmu. Dibukanya kran-kran ilmu di sela-sela kesibukannya dalam kerja dan menggeluti rutinitas sehari-hari. Senang menularkan ilmu kepada orang-orang di sekelilingnya. Tak patah arang saat gagal mendaki puncak ilmu. Lebih mencintai ilmu daripada harta benda dan yang senada dengan itu.

Jika yang demikian itu ada pada diri kita, berarti kita calon menjadi orang yang bahagia di akherat sana. Sudah barang tentu setelah mengecap kebahagiaan di sini. Di dunia ini.

Sahabat,,,
Sebaliknya, merupakan tanda bahwa kita akan sengsara di alam keabadian dan kehidupan yang kekal di akherat sana, jika kita terhalangi meraih ilmu pengetahuan. Membenci orang-orang yang menghadiri majlis ilmu. Memusuhi mereka yang menularkan ilmu kepada orang lain. Gerah duduk di taman ilmu. Menghalang-halangi orang lain meraih pengetahuan agama dan seterusnya.

Sahabat,,,
Mari mulai hari ini kita merenung sejenak. Mana yang lebih menguras pikiran kita, harta benda dan kenikmatan dunia yang ingin kita kecap? Ataukah ilmu pengetahuan yang kita kejar?.

Mana yang lebih dominan menyapa kita setiap hari. Ilmu pengetahuan ataukah godaan dunia?.

Ketika kita mengunjungi dunia maya. Apa yang terbersit di hati kita? Apakah kita ingin menjadikannya sebagai kunci ilmu bagi kita. Atau justru kita ingin berkeliling dunia dengannya?.

Jawabannya ada di hati kita. Apakah kita termasuk orang yang akan berbahagia di sana atau sebaliknya, kita menjadi orang yang merana yang tak ada ujungnya.

Ya Rabb, bukakanlah pintu-pintu ilmu pengetahuan untuk kami dan jangan Engkau halangi kami dari karunia-Mu. Amien. Wallahu a'lam bishawab.

KARENA IBLIS MASIH HIDUP


sahabat..
Abu Hurairah ra ketika sujud dalam shalatnya, ia sering memohon perlindungan kepada Allah dari perbuatan zina, mencuri, terpuruk dalam kekufuran dan dosa-dosa besar lainnya.

Ada sahabat yang bertanya, "Mengapa anda teramat takut dari melakukan dosa-dosa besar?."

Ia menjawab, "Siapa yang dapat menjamin bahwa aku terhindar dari dosa-dosa besar sementara Iblis masih hidup, sedangkan Zat yang memiliki hati bisa membolak-balikan hati ini seperti yang dikehendaki-Nya."
(Mawa'izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

sahabat..
Dari pengalaman hidup sahabat agung ini, sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi saw, dapat kita gali beberapa pelajaran berharga. Di antaranya:
 
·     Jika tingkat keshalihan pribadi kita semakin tinggi, maka rasa khauf kita kepada Zat yang memiliki siksa yang pedih juga semakin meningkat. Sebaliknya, tiada rasa takut akan siksa-Nya, bagi kita yang mengalami penurunan spiritual, ringkih keimanan dan telah sirna nilai penghambaan diri kepada-Nya.



·     Keimanan yang hidup seperti yang dimiliki Abu Hurairah ra dan sahabat lainnya, telah mengalirkan rasa khauf yang teramat besar di dalam kalbunya. Lalu dari hati memantulah rasa takut itu kepada lisannya, yang menjelma dalam lantunan do'a tulus. Rasa khauf yang terekspresikan lewat tetesan air mata iman, di waktu do'a paling dekat untuk dikabulkan. Yakni di saat sujud.

·     Dosa-dosa besar, akan menyeret kita masuk ke dalam neraka. Tiada terhapus dosa-dosa tersebut, melainkan dengan taubat dan istighfar. Abu Hurairah ra, biasa beristighfar dalam sehari sebanyak 1000 kali. Di antara bentuk dosa besar yang disebutkan Abu Hurairah dalam do'anya adalah; zina, mencuri, mengingkari karunia Allah dan seterusnya.

·     Alasan Abu Hurairah merasa takut terpuruk dalam dosa-dosa besar adalah karena nenek moyangnya setan yaitu Iblis masih hidup dan akan terus hidup sampai tibanya hari kiamat. Semakin shalih seorang hamba, maka setan yang ditugasi Iblis untuk menggodanya juga semakin lihai dan beragam perangkapnya.

·     Memperbanyak do'a sewaktu sujud. Sebab sujud merupakan satu keadaan di mana seorang hamba paling rendah dan tunduk di hadapan-Nya. Itulah satu kondisi di mana do'a-do'a kita dekat untuk dikabulkan.

·     Merasa aman dari makar (azab) Allah, merupakan bagian dari makar (tipu daya) setan terhadap kita, yang semestinya kita selalu mewaspadainya.

Ya Rabbi, hadirkanlah rasa takut di hati kami terhadap azab-Mu yang pedih. Jauhkanlah kami dari dosa-dosa besar dan kecil yang bisa menghambat kami masuk ke dalam surga-Mu. Amien. Wallahu a'lam bishawab.

Saudaraku..
Abdurahman bin Auf ra pernah menyindir kita dengan ucapannya:
 
"Dahulu saat kami menyertai Rasulullah saw, kami diuji dengan kesusahan dan kami sabar. Lalu sepeninggal beliau kami diuji dengan kesenangan, ternyata kami tak sabar."
(Mawa'izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku..
Dunia disebut dengan darul bala', tempat ujian atau ladang tempat menanam amal dan bakti. Sedangkan akherat diistilahkan dengan darul jaza', tempat memanen hasil atau memetik buah balasan.

Artinya, kenikmatan dan bencana. Kelapangan dan kesempitan. Kebahagiaan dan kesusahan. Kesuksesan dan kegagalan. Kekayaan dan kemiskinan. Sehat dan sakit. Senyuman dan tangisan. Kejayaan dan keterpurukan. Kemudahan dan kesulitan. Berseri dalam keluarga dan nyeri dalam kesendirian. Dan seterusnya. Itu semua pada hakikatnya merupakan warna dari ujian Allah swt atas kita.

Di mana bila kita salah dalam mensikapi kedua kondisi dan keadaan yang pasti pernah kita alami itu, akan berakibat fatal di sini, di dunia ini. Apalagi di sana, di akherat sana. Maka memandang persoalan hidup dengan kaca mata iman dan hati, merupakan awal dari kisah panjang kesuksesan kita.

Namun saudaraku..
Pengalaman mengajari kita, tidak sedikit orang yang sadar bahwa ia sedang diuji oleh-Nya saat ia jatuh miskin, usaha bangkrut, jodoh idaman menjauh, gagal menjadi wakil rakyat, sakit kronis merongrong tubuh, kepergian orang-orang dekat, kesempitan akrab menyapa diri dan seterusnya.

Tapi jarang di antara kita yang menyadari bahwa kenikmatan hidup dan kelapangan yang Dia karuniakan kepada kita berupa kesuksesan meraih harapan dan cita-cita, kesehatan yang setia menemani kita, karir yang terus melejit, kekayaan yang menyerikan pandangan dan seterusnya. Itu merupakan ujian yang sering kita tidak sabar menghadapinya. Membuat kita lupa untuk mensyukuri karunia-Nya.

Dan inilah yang pernah digaris bawahi oleh sahabat agung Abdurahman bin Auf, sahabat terkaya di zaman Nabi saw.

Jika hal itu dirasakan oleh para sahabat, tentu kita harus lebih waspada menghadapi ujian yang sering melenakan kita ini.

Mudah-mudahan kita selalu sadar dengan dua model ujian ini. Dan semoga kita sabar dalam menghadapi model ujian apapun di dunia ini. Tentunya dengan bimbingan dan penjagaan dari Allah swt. Wallahu a'lam bishawab.

Fatimah Haura Nazhifa

Usai sudah penantian panjang nan melelahkan. Harapan dan kecemasan akhirnya tergantikan sukacita saat buah hati telah lahir. Ucapan selamat pun mengalir mengiringi kebahagiaan.

Yups, itu lah yg saya rasakan. Berbulan bulan menunggu lahirnya sang buah hati. Larut dalam kecemasan, rasa takut dan ngilu saat membayangkan seperti apa wajah sang anak setelah lahir. Mirip ibunya, atau bapaknya.

Setelah melalui proses panjang, yaitu istri di induksi selama hampir 12 jam lebih, dari pukul 10 malam tanggal 15 Agustus 2012. Alhamdulillah akhirnya lahir juga bayi pertama dari kami, Fatimah Haura Nazhifa pada pukul 12.55 siang tanggal 16 Agustus 2012 di Rumah Bersalin Kartini Bandung.
Memang tak salah jika surga ada ditelapak kaki Ibu, betapa luar biasa pengorbanan Ibu dalam melahirkan anaknya, berada diantara hidup dan mati ketika proses persalinan.

Para Ibu yang pernah diinduksi pasti pernah mengalami betapa sakit dan mulasnya perut, apalagi istri saya sampai hampir setengah hari penuh di induksi dengan istirahat selang beberapa jam. Sampai ketika proses persalinan pun, istri nyaris harus di operasi cesar karena dari pembukaan 7 tidak ada tambahan pembukaan lagi, sehingga mengharuskan istir untuk di rujuk ke Rumah Bersalin Kartini yang awalnya kami periksa di Rumah Bersalin Al-Islam karena di Rumah Bersalin Al-Islam tidak tersedia alat operasi.

"...Astaghfirulloohal ‘adhieem, nas alullooha salaamah wal aafiyah,,, "gumamku lirih.

Subhanalloh Wal Hamdulillah, sesampainya di Rumah Bersalin Kartini yang berlokasi di Jl. Pahlawan Bandung, setelah diperiksa kembali pembukaannya Alhmadulillah ada tambahan pembukaan sampai pembukaan 8 akhirnya dr. kandungan yang membantu istri saya (red. dr. Dina) memutuskan Insya Allah bisa lahir normal dengan vacum.Berkah luar biasa besar pada akhir bulan Ramadhan menjelang hari kemenangan ini. Semoga menjadi anak yang sholeh dan kami bisa menjadi orang tua yang menjadi panutan, Amiin,,,

Usai sudah penantian panjang nan melelahkan. Harapan dan kecemasan akhirnya tergantikan sukacita saat buah hati telah lahir. Ucapan selamat pun mengalir mengiringi kebahagiaan.

Fatimah Haura Nazhifa

Philosofi Fatimah Haura Nazhifa

Fatimah, tafa'ul kepada putri kesayangan baginda Rosulullah SAW., Insya Allah akhlak mulia dan ketaatan Fatimah Az-Zahra kepada Allah dan Rosul-Nya, bisa menjadi teladan untuk anak kami. Aamiin,,,

Haura, Bidadari atau bisa juga diartikan sebagai putri yang berkulit putih (bukan hanya kulitnya yang putih, tetapi putih dan suci lahir dan bathinnya. Aamiin,,,)

Nazhifa artinya bersih (bersih hatinya. Aamiin,,,)

Sebelum Kita Memejamkan Mata

Saudaraku…
Umar bin Khattab ra pernah berucap:

"Setiap hari aku mendengar kabar bahwa si Fulan dan Fulan telah meninggal dunia. Dan suatu hari nanti pasti akan ada berita bahwa Umar telah kembali (ke pangkuan-Nya)."
(Mawa'izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku…
Ajal adalah rahasia Allah swt dan misteri bagi kita selaku makhluk-Nya. Kita tidak mengetahui kapan ia menyapa seseorang, kecuali setelah terjadi. Ketika kita menyadari apa yang telah diingatlah oleh Amirul mukminin, tentu kita akan senantiasa waspada. Tidak lalai dan lengah dengan silaunya dunia. Karena kita sadar bahwa kita akan meninggalkannya.

Hitunglah dengan teliti dan jujur berapa jumlah orang yang kita kenal. Tetangga kita di kampung halaman. Teman kerja kita di kantor. Rekan kita di sekolah dan seterusnya. Dan sekarang telah menutup mata untuk selama-lamanya. Entah esok, lusa, tiga hari lagi, pekan depan dan seterusnya. Kita pun akan mengalami hal yang sama. Kita pun akan berubah nama dan bergelar "AL MARHUM". Sudahkah kita menyiapkan diri untuk hari kepulangan kita? Wallahu a'lam bishawab.

Sucikan Diri dengan Amal Soleh

Saudaraku…
Suatu hari Abu Darda' mengirim sepucuk surat kepada saudaranya Salman al farisi. Ia menulis:

"Mari kita mengunjungi bumi Allah yang disucikan!."

Salman ra membalas:

"Sesungguhnya bumi (Allah) tidak mensucikan seorangpun dari penduduknya. Sesungguhnya hanya amal shalih-lah yang dapat mensucikan diri manusia."
(Mawa'izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku..
Tanah haram, negeri yang disucikan; Mekkah, Madinah dan Baitul Maqdis memang tidak pernah membuat penduduknya suci. Dan tidak pula menjamin orang-orang yang mukim di sana berselimutkan hidayah. Atau terhindar dari salah, khilaf, dosa dan maksiat.

Paman Nabi saw, yakni Abu Thalib. Semasa hidupnya dia berkorban jiwa, raga, harta benda dan seluruh potensi yang dimiliki untuk membentengi dakwah. Toh pada akhirnya, ia mati dalam keadaan kufur.

Ada orang yang tinggal di dekat masjidil haram, tapi ia belum pernah melaksanakan rukun Islam yang kelima, padahal usianya sudah lebih dari lima puluh tahun.

Berbuat aniaya terhadap pembantu. Tidak memberi upah supir pribadinya. Melakukan dosa besar. Dan yang senada dengan itu, juga terjadi di wilayah tanah haram Mekkah.

Suatu saat, seorang supir pribadi di sebuah perumahan di Madinah bercerita bahwa selama hampir dua tahun ia bekerja di kota Nabi tersebut, ia belum pernah melihat majikan laki-lakinya shalat Jum'at. Apatah lagi shalat lima waktu.

Saudaraku..
Amal shalih itulah yang akan mensucikan kita di hadapan Allah swt. Suci bukan berarti kita tak pernah melakukan dosa dan kesalahan. Kekhilafan dan kekeliruan. Maksiat dan pelanggaran.

Tapi amal shalih yang kita perbuat akan membersihkan dosa-dosa yang kita lakukan. Bukankah wudhu yang kita lakukan setiap akan melakukan shalat (bagi yang berhadats), itu akan mensucikan dosa yang lahir dari pandangan mata, tangan dan kaki kita?

Tidakkah shalat lima waktu, menjadi pelebur dosa di antara kelima waktu tersebut?. Satu Jum'at ke Jum'at berikutnya, juga sebagai penghapus dosa di antara keduanya. Antara satu umrah ke umrah berikutnya adalah penebus dosa di antara keduanya. Puasa Ramadhan, menjadi penghapus dosa setahun yang lalu. Dan seterusnya.

Sudah barang tentu, selagi kita tak melakukan dosa besar. Selama hanya dosa-dosa kecil yang kita lakukan. Karena dosa besar tak akan tersucikan kecuali dengan istighfar dan taubat.

Saudaraku..
Sebagaimana tanah suci tak akan pernah mensucikan penduduknya, maka demikian pula dengan bulan yang disucikan, yakni Ramadhan yang beberapa jam lagi akan menyapa kita.

Kita tak akan pernah menjadi makhluk suci di hadapan-Nya, jika kita tak mengetahui bagaimana cara menghargai kesucian bulan itu. Walaupun kita telah melewati Ramadhan sebanyak 45 kali.

Para salafus shalih, begitu antusias menyambut bulan suci umat Islam itu. Mu'alla bin Fadhl rahimahullah pernah berkata: “Mereka (salafus shalih) selama enam bulan berdo'a kepada Allah supaya disampaikan kepada bulan Ramadhan, dan berdo'a enam bulan berikutnya agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.”

Malam-malam Ramadhan, mereka isi dengan shalat tarawih dan qiyamul-lail serta munajat kepada-Nya. Siang harinya, selain puasa mereka banyak berderma, tilawah al Qur'an dengan penuh tadabbur. Menyediakan berbuka puasa. Berdo'a dan istighfar serta amalan lain yang nilai manfaatnya dirasakan oleh orang banyak.

Saudaraku..
Ramadhan hanya menjadi judul 'bulan suci'. Jika kita tak mampu mengisi waktu-waktunya dengan ibadah dan ukiran amal-amal shalih. Sehingga 'sosok muttaqin' yang menjadi piala dalam perlombaan Ramadhan, hanya menjadi harapan, impian dan fatamorgana.

Siapkah kita mensucikan diri kita di bulan yang suci dan di negeri yang suci dengan ukiran amal-amal shalih? Wallahu a'lam bishawab.