Fatimah Haura Nazhifa

Usai sudah penantian panjang nan melelahkan. Harapan dan kecemasan akhirnya tergantikan sukacita saat buah hati telah lahir. Ucapan selamat pun mengalir mengiringi kebahagiaan.

Yups, itu lah yg saya rasakan. Berbulan bulan menunggu lahirnya sang buah hati. Larut dalam kecemasan, rasa takut dan ngilu saat membayangkan seperti apa wajah sang anak setelah lahir. Mirip ibunya, atau bapaknya.

Setelah melalui proses panjang, yaitu istri di induksi selama hampir 12 jam lebih, dari pukul 10 malam tanggal 15 Agustus 2012. Alhamdulillah akhirnya lahir juga bayi pertama dari kami, Fatimah Haura Nazhifa pada pukul 12.55 siang tanggal 16 Agustus 2012 di Rumah Bersalin Kartini Bandung.
Memang tak salah jika surga ada ditelapak kaki Ibu, betapa luar biasa pengorbanan Ibu dalam melahirkan anaknya, berada diantara hidup dan mati ketika proses persalinan.

Para Ibu yang pernah diinduksi pasti pernah mengalami betapa sakit dan mulasnya perut, apalagi istri saya sampai hampir setengah hari penuh di induksi dengan istirahat selang beberapa jam. Sampai ketika proses persalinan pun, istri nyaris harus di operasi cesar karena dari pembukaan 7 tidak ada tambahan pembukaan lagi, sehingga mengharuskan istir untuk di rujuk ke Rumah Bersalin Kartini yang awalnya kami periksa di Rumah Bersalin Al-Islam karena di Rumah Bersalin Al-Islam tidak tersedia alat operasi.

"...Astaghfirulloohal ‘adhieem, nas alullooha salaamah wal aafiyah,,, "gumamku lirih.

Subhanalloh Wal Hamdulillah, sesampainya di Rumah Bersalin Kartini yang berlokasi di Jl. Pahlawan Bandung, setelah diperiksa kembali pembukaannya Alhmadulillah ada tambahan pembukaan sampai pembukaan 8 akhirnya dr. kandungan yang membantu istri saya (red. dr. Dina) memutuskan Insya Allah bisa lahir normal dengan vacum.Berkah luar biasa besar pada akhir bulan Ramadhan menjelang hari kemenangan ini. Semoga menjadi anak yang sholeh dan kami bisa menjadi orang tua yang menjadi panutan, Amiin,,,

Usai sudah penantian panjang nan melelahkan. Harapan dan kecemasan akhirnya tergantikan sukacita saat buah hati telah lahir. Ucapan selamat pun mengalir mengiringi kebahagiaan.

Fatimah Haura Nazhifa

Philosofi Fatimah Haura Nazhifa

Fatimah, tafa'ul kepada putri kesayangan baginda Rosulullah SAW., Insya Allah akhlak mulia dan ketaatan Fatimah Az-Zahra kepada Allah dan Rosul-Nya, bisa menjadi teladan untuk anak kami. Aamiin,,,

Haura, Bidadari atau bisa juga diartikan sebagai putri yang berkulit putih (bukan hanya kulitnya yang putih, tetapi putih dan suci lahir dan bathinnya. Aamiin,,,)

Nazhifa artinya bersih (bersih hatinya. Aamiin,,,)

Sebelum Kita Memejamkan Mata

Saudaraku…
Umar bin Khattab ra pernah berucap:

"Setiap hari aku mendengar kabar bahwa si Fulan dan Fulan telah meninggal dunia. Dan suatu hari nanti pasti akan ada berita bahwa Umar telah kembali (ke pangkuan-Nya)."
(Mawa'izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku…
Ajal adalah rahasia Allah swt dan misteri bagi kita selaku makhluk-Nya. Kita tidak mengetahui kapan ia menyapa seseorang, kecuali setelah terjadi. Ketika kita menyadari apa yang telah diingatlah oleh Amirul mukminin, tentu kita akan senantiasa waspada. Tidak lalai dan lengah dengan silaunya dunia. Karena kita sadar bahwa kita akan meninggalkannya.

Hitunglah dengan teliti dan jujur berapa jumlah orang yang kita kenal. Tetangga kita di kampung halaman. Teman kerja kita di kantor. Rekan kita di sekolah dan seterusnya. Dan sekarang telah menutup mata untuk selama-lamanya. Entah esok, lusa, tiga hari lagi, pekan depan dan seterusnya. Kita pun akan mengalami hal yang sama. Kita pun akan berubah nama dan bergelar "AL MARHUM". Sudahkah kita menyiapkan diri untuk hari kepulangan kita? Wallahu a'lam bishawab.

Sucikan Diri dengan Amal Soleh

Saudaraku…
Suatu hari Abu Darda' mengirim sepucuk surat kepada saudaranya Salman al farisi. Ia menulis:

"Mari kita mengunjungi bumi Allah yang disucikan!."

Salman ra membalas:

"Sesungguhnya bumi (Allah) tidak mensucikan seorangpun dari penduduknya. Sesungguhnya hanya amal shalih-lah yang dapat mensucikan diri manusia."
(Mawa'izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku..
Tanah haram, negeri yang disucikan; Mekkah, Madinah dan Baitul Maqdis memang tidak pernah membuat penduduknya suci. Dan tidak pula menjamin orang-orang yang mukim di sana berselimutkan hidayah. Atau terhindar dari salah, khilaf, dosa dan maksiat.

Paman Nabi saw, yakni Abu Thalib. Semasa hidupnya dia berkorban jiwa, raga, harta benda dan seluruh potensi yang dimiliki untuk membentengi dakwah. Toh pada akhirnya, ia mati dalam keadaan kufur.

Ada orang yang tinggal di dekat masjidil haram, tapi ia belum pernah melaksanakan rukun Islam yang kelima, padahal usianya sudah lebih dari lima puluh tahun.

Berbuat aniaya terhadap pembantu. Tidak memberi upah supir pribadinya. Melakukan dosa besar. Dan yang senada dengan itu, juga terjadi di wilayah tanah haram Mekkah.

Suatu saat, seorang supir pribadi di sebuah perumahan di Madinah bercerita bahwa selama hampir dua tahun ia bekerja di kota Nabi tersebut, ia belum pernah melihat majikan laki-lakinya shalat Jum'at. Apatah lagi shalat lima waktu.

Saudaraku..
Amal shalih itulah yang akan mensucikan kita di hadapan Allah swt. Suci bukan berarti kita tak pernah melakukan dosa dan kesalahan. Kekhilafan dan kekeliruan. Maksiat dan pelanggaran.

Tapi amal shalih yang kita perbuat akan membersihkan dosa-dosa yang kita lakukan. Bukankah wudhu yang kita lakukan setiap akan melakukan shalat (bagi yang berhadats), itu akan mensucikan dosa yang lahir dari pandangan mata, tangan dan kaki kita?

Tidakkah shalat lima waktu, menjadi pelebur dosa di antara kelima waktu tersebut?. Satu Jum'at ke Jum'at berikutnya, juga sebagai penghapus dosa di antara keduanya. Antara satu umrah ke umrah berikutnya adalah penebus dosa di antara keduanya. Puasa Ramadhan, menjadi penghapus dosa setahun yang lalu. Dan seterusnya.

Sudah barang tentu, selagi kita tak melakukan dosa besar. Selama hanya dosa-dosa kecil yang kita lakukan. Karena dosa besar tak akan tersucikan kecuali dengan istighfar dan taubat.

Saudaraku..
Sebagaimana tanah suci tak akan pernah mensucikan penduduknya, maka demikian pula dengan bulan yang disucikan, yakni Ramadhan yang beberapa jam lagi akan menyapa kita.

Kita tak akan pernah menjadi makhluk suci di hadapan-Nya, jika kita tak mengetahui bagaimana cara menghargai kesucian bulan itu. Walaupun kita telah melewati Ramadhan sebanyak 45 kali.

Para salafus shalih, begitu antusias menyambut bulan suci umat Islam itu. Mu'alla bin Fadhl rahimahullah pernah berkata: “Mereka (salafus shalih) selama enam bulan berdo'a kepada Allah supaya disampaikan kepada bulan Ramadhan, dan berdo'a enam bulan berikutnya agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.”

Malam-malam Ramadhan, mereka isi dengan shalat tarawih dan qiyamul-lail serta munajat kepada-Nya. Siang harinya, selain puasa mereka banyak berderma, tilawah al Qur'an dengan penuh tadabbur. Menyediakan berbuka puasa. Berdo'a dan istighfar serta amalan lain yang nilai manfaatnya dirasakan oleh orang banyak.

Saudaraku..
Ramadhan hanya menjadi judul 'bulan suci'. Jika kita tak mampu mengisi waktu-waktunya dengan ibadah dan ukiran amal-amal shalih. Sehingga 'sosok muttaqin' yang menjadi piala dalam perlombaan Ramadhan, hanya menjadi harapan, impian dan fatamorgana.

Siapkah kita mensucikan diri kita di bulan yang suci dan di negeri yang suci dengan ukiran amal-amal shalih? Wallahu a'lam bishawab.